Category Archives: Artikel

Nonton Tivi: Tak Cukup Hanya Berbekal Mata …

Coba simak data-data berikut ini. Dalam seminggu, anak-anak di Indonesia menonton televisi selama 30-35 jam, atau 1560-1820 jam setahun. Angka ini jauh lebih besar ketimbang jumlah jam belajar di sekolah dasar yang tak lebih dari 1000 jam/tahun. Maka, ketika seorang anak menginjak usia SMP, dia sudah menyaksikan televisi selama 15.000 jam. Sementara, waktu yang dihabiskannya untuk belajar tak lebih dari 11.000 jam saja (Nielsen Index). Kesimpulannya, lebih banyak waktu dihabiskan untuk nonton tivi daripada belajar! Kidia, sebuah lembaga riset dan advokasi media anak mencatat, saat ini jumlah acara TV untuk anak usia prasekolah dan sekolah dasar mencapai 80 judul setiap minggu, yang ditayangkan dalam 300 kali penayangan selama 170 jam. Padahal, dalam seminggu ada 24 jam x 7 = 168 jam! Artinya, porsi tayangan program anak di televisi sudah berlebihan, melebihi jumlah jam dalam setiap minggu. Bisa dibayangkan betapa banyaknya program televisi yang membombardir anak-anak. Padahal, dari sekian banyak program televisi, hanya 15 persen saja yang dikonsumsi anak-anak.
Continue reading

Melawan Kecanduan, Memulai Aktivitas

Bagi keluarga-keluarga yang hidup di kota besar seperti Bandung, televisi bukan lagi menjadi barang mewah. Televisi senantiasa hadir dan menjadi bagian dari kehidupan keseharian. Aneka program tontonan yang masuk ke ruang-ruang keluarga, kemudian ikut menentukan pola interaksi antar anggota keluarga. Tak jarang pula menonton televisi menjadi saat yang justru menyatukan anggota keluarga.

Apa yang dilakukan keluarga Andar Manik, mungkin tidak banyak dilakukan oleh keluarga lain. Sejak sebulan terakhir ini, keluarganya memutuskan hidup tanpa televisi. Meski sempat mendapat protes dari anak bungsunya, Gilang yang baru berumur 10 tahun dan duduk di bangku kelas 4, bapak tiga anak _ Gita, Bintang dan Gilang_ tetap pada keputusannya untuk memutuskan saluran televisi yang ada di rumahnya. “Bukan karena saya tega sama anak, justru karena saya ngga tega melihat anak saya membeku di depan televisi,” jelas suami Marintan Sirait ini. “Yang saya kawatirkan adalah efek dari kecanduannya, ketika ada di depan televisi, dia jadi tersedot dan pasif tidak melakukan apa-apa,” ungkap Andar. “Juga yang tak kalah berbahaya, ketika dia percaya kalau apa yang ada di iklan itu adalah suatu kebenaran,” tambah Marintan.
Continue reading

Mendidik Masyarakat Cerdas Di Era Informasi

Oleh: Santi Indra Astuti, S.Sos.

ABSTRAK

Pelbagai makna dilekatkan pada pendidikan. Mulai dari pendidikan sebagai kunci kemajuan peradaban bangsa, pendidikan sebagai sarana peningkatan kualitas SDM, serta pendidikan sebagai proses sosialisasi nilai-nilai budaya, sekaligus sarana ampuh untuk mengindoktrinasikan ideologi. Apapun makna pendidikan, posisinya tergolong sentral di tengah masyarakat, mengingat fungsinya selaku pranata cultural maintenance dalam sistem sosial. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan mendapatkan tantangan serius, ketika masyarakat bertransformasi menjadi masyarakat media yang hidup di era Informasi. Di era ini, media muncul sebagai sentra pendidikan keempat dalam ruang pendidikan secara keseluruhan, yang sebelumnya hanya diisi oleh sentra keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tantangan yang muncul bersumber dari dominasi media massa dalam kehidupan publik, yang ketika posisinya bergeser menggantikan peran sentra pendidikan lainnya, disinyalir telah menyajikan kurikulum tersembunyi –the hidden curriculum—lewat kandungan isinya yang tidak mencerdaskan khalayak. Tantangan ini dapat diatasi lewat gerakan media literacy—sebuah konsep keberaksaraan (literacy) yang diterapkan pada media massa. Melalui gerakan ini, masyarakat diajak untuk memahami bahwa media massa sesungguhnya tidaklah netral, melainkan ajang kontestasi pelbagai kepentingan sosial ekonomi politik. Bahwa media sesungguhnya bukan sekadar alat kontrol sosial dan cermin realitas, melainkan punya peran dalam mengonstruksi realitas sosial secara subjektif. Lewat upaya penyadaran semacam ini, gerakan media literacy berkehendak mendidik masyarakat guna memanfaatkan informasi dan kandungan media lainnya sesuai dengan keperluannya. Lebih jauh lagi, gerakan ini bermaksud mendidik masyarakat agar mampu bersikap kritis dan bijak dalam menghadapi banjir informasi dan upaya media massa mendominasi kehidupan masyarakat sehari-hari.

Continue reading

Kurangi Nonton Tivi, Nikmati Hidup!

Mari kita kendalikan teknologi agar teknologi tidak mengendalikan kita

Pengaruh Media terhadap anak makin besar, teknologi semakin canggih & intensitasnya semakin tinggi. Padahal orangtua tidak punya waktu yang cukup untuk memerhatikan, mendampingi & mengawasi anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton TV ketimbang melakukan hal lainnya. Dalam seminggu anak menonton TV sekitar 170 jam. Apa yang mereka pelajari selama itu? Mereka akan belajar bahwa kekerasan itu menyelesaikan masalah. Mereka juga belajar untuk duduk di rumah dan menonton, bukannya bermain di luar dan berolahraga. Hal ini menjauhkan mereka dari pelajaran-pelajaran hidup yang penting, seperti bagaimana cara berinteraksi dengan teman sebaya, belajar cara berkompromi dan berbagi di dunia yang penuh dengan orang lain. Continue reading

Hari Tanpa TV – Sebuah Gerakan Menciptakan Masyarakat dan Industri Penyiaran yang Sehat

A. Pengantar: Mengapa harus ada Hari Tanpa TV?

Sekitar 60 juta anak Indonesia menonton TV selama berjam-jam hampir sepanjang hari. Anak-anak menonton apa saja karena kebanyakan keluarga tidak memberi batasan menonton yang jelas. Mulai dari acara gosip selebritis, berita kriminal yang berdarah-darah, sinetron remaja yang permisif dan penuh kekerasan, intriks, mistis, amoral, film dewasa yang diputar dari pagi hingga malam, penampilan grup musik berpakaian seksi dengan lirik orang dewasa yang tidak mendidik, sinetron berbungkus agama yang banyak menampilkan rekaan azab, hantu, iblis, siluman, dan seterusnya. Bahkan, acara anak pun dipenuhi oleh adegan yang tidak aman dan tidak pantas ditonton anak (Kompas, Juli 2006). Continue reading